SEMBAGO – Kenaikan harga bahan makanan diperkirakan meningkat pada Maret 2018. Hal ini terindikasi dari Indeks Ekspektasi Harga (IEH) pada Maret 2018 sebesar 173,2, naik 2,3 poin dibandingkan bulan sebelumnya. Dalam tulisan ini dipaparkan faktor yang menyebabkan naiknya harga, sehingga terbongkar mengapa harga bahan makanan menjadi mahal.

Konsumen juga memperkirakan tekanan kenaikan harga akan meningkat pada April 2018, terindikasi dari kenaikan IEH pada April sebesar 172,2. Sementara tekanan kenaikan harga pada Oktober 2018 juga meningkat tercermin dari IEH pada Oktober 2018 sebesar 175,5 atau naik 1,9 poin.

Kenaikan harga bahan makanan ini disebabkan oleh sejumlah faktor. Salah satu faktor penyebabnya adalah panjangnya rantai distribusi makanan hingga ke tangan konsumen.

Baca juga: SEMBAGO, Menuai Manisnya Bisnis Agraris

Rantai distribusi

Berdasarkan survei pola distribusi (Poldis) 2015, distribusi perdagangan, seperti beras, cabai merah, bawang merah, jagung pipilan, dan daging ayam ras dari produsen sampai ke konsumen akhir melibatkan dua hingga sembilan fungsi kelembagaan usaha perdagangan.

Pola terpanjang jalur distribusi terjadi pada perdagangan cabai merah di Provinsi Jawa Tengah dari produsen sampai ke konsumen. Dengan melibatkan pengepul/tengkulak berlanjut ke distributor lalu ke sub distributor dan kemudian ke agen diteruskan ke pedagang grosir dan menuju swalayan/supermarket/pedagang eceran dan baru masuk ke tangan konsumen akhir, yaitu rumah tangga/industri pengolahan/kegiatan usaha lainnya.

Sementara pola terpendek jalur distribusi komoditas bawang merah terjadi di Provinsi Maluku Utara, yakni dari agen menuju pedagang eceran dan kemudian langsung ke konsumen akhir, yaitu kegiatan usaha lainnya/rumah tangga.

Data BPS menunjukkan, alur distribusi terpanjang dan terpendek berdasarkan komoditas:

1. Beras terpanjang di DKI Jakarta dan terpendek di Sulawesi Utara
2. Cabai merah terpanjang di Jawa Tengah dan terpendek di Sulawesi Utara
3. Bawang merah terpanjang dan terpendek masing-masing di Jawa Tengah dan Maluku Utara
4. Jagung pipilan terpanjang di Jawa Tengah dan terpendek di Sulawesi Utara
5. Daging ayam ras terpanjang di DKI Jakarta dan terpendek di Kalimantan Barat.

Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Enny Sri Hartati menyatakan, kenaikan harga bahan pokok disebabkan panjangnya rantai distribusi. Dia menyontohkan, untuk konsumsi cabai, dari petani, cabai masuk ke pedagang pengepul/tengkulak.

Kemudian, dari pedagang pengepul/tengkulak ke distributor, lalu ke pedagang besar kemudian kembali lagi ke distributor, dan akhirnya cabai itu diterima pedagang pengecer.

Kalau saja rantai distribusi ini bisa diperpendek, yakni dari distributor langsung ke pedagang, harganya akan lebih murah. Fluktuasi harga kuncinya bukan di pedagang eceran, melainkan di pedagang besar. Pasalnya, pedagang eceran hanya menerima harga dari pedagang besar dan menerima sedikit keuntungan.

Berdasarkan hasil survei Indef, petani hanya menikmati 40 persen keuntungan dari hasil panennya. Sedangkan, 60 persennya milik tengkulak.

Sekjen Asosiasi Agribisnis Cabai Indonesia (AACI), Abdul Hamid, menjelaskan, faktor keterikatan petani dengan pengepul atau tengkulak jadi salah satu sebab petani lebih suka menjualnya kepada mereka.

Sistem online

CEO dan Founder SEMBAGO, Moses Pangeran Lukman mengatakan, penyebab melonjaknya harga pangan selain karena rantai distribusi yang masih melalui tengkulak, kenaikan harga juga disebabkan beberapa faktor. Misalnya para petani belum menggunakan peralatan berbasis teknologi terkini, infrastruktur yang belum memadai, serta petani tidak diberikan akses lebih jauh untuk mengetahui bagaimana cara berjualan dan apa yang diinginkan konsumen.

Baca juga: Pangeran Turun Gunung Mengurus SEMBAGO Secara Langsung

Harga Bahan Makanan

Menurut Moses, cara yang cukup ampuh untuk memutus rantai distribusi melalui tengkulak adalah dengan menerapkan sistem online. Dengan sistem online, maka petani bisa langsung ke konsumen. Untuk itulah peran SEMBAGO memfasilitasi para petani agar bisa menjual hasil produk mereka langsung ke konsumen melalui sistem online.

“Kami membantu petani menjualkan produk mereka agar harga terjangkau oleh masyarakat dan dengan kualitas produk yang tetap terjaga,” kata pria yang juga menjabat Vice President Darta Corporation.

Pengusaha muda ini menyatakan, sistem online yang bakal diterapkan SEMBAGO bukan karena mengikuti tren startup yang tengah marak saat ini, tetapi lebih kepada misi nasionalis yang diusung SEMBAGO.

Baca juga: Bukan Ikut Tren, Startup SEMBAGO Usung Misi Nasionalis

Misi tersebut selain memutus rantai distribusi melalui tengkulak, juga membagi hasil keuntungan sebesar 40 persen untuk petani dan 60 persen untuk pebisnis (social entrepreneur), serta memberikan pengarahan kepada petani mengenai tren produk yang dibutuhkan konsumen. “Jadi kami ada unsur edukasinya kepada petani. Kami meng-upgrade petani untuk meningkatkan service kepada konsumen,” kata Moses.

Dengan cara memutus rantai distriibusi bahan makanan melalui tengkulak, maka harga bahan makanan bisa jauh lebih terjangkau oleh masyarakat. Seperti yang dilakukan SEMBAGO, yaitu membantu petani menjualkan produk mereka langsung ke tangan konsumen. Selain masyarakat memperoleh harga yang murah, kualitas produk juga tetap terjamin.